Notification

×

BBM Kebutuhan Melaut Langka dan Mahal, Nelayan Selayar Resah

Sabtu, 08 Oktober 2022 | 19.23.00 WIB

INIBACA.COM | SELAYAR – Nelayan yang mendiami 6 pulau di Takabonerate Kepulauan Selayar saat ini resah  karena sulitnya mereka mendapatkan bahan bakar kebutuhan melaut. Pasalnya kapal-kapal pembeli ikan dari luar kepulauan Selayar yang biasa membawakan mereka bahan bakar, akhir-akhir ini takut dan tidak mau membawa bahan bakar  ke pulau-pulau, karena para pedagang ini takut tertangkap petugas keamanan jika membawa bahan bakar lebih untuk nelayan.

“ Kebanyakan nelayan mendapat  solar kebutuhan melaut dari kapal-kapal pembeli ikan asal Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai yang datang membeli ikan hasil tangkapan nelayan. Selama ini para pedagang pembeli ikan tiba dengan membawa serta solar kebutuhan nelayan melaut mencari ikan, dengan harga murah. Dan hasil melaut itulah pembeli ini kemudian mendapat ikan untuk di beli. 

Tapi sekarang mereka tidak mau lagi membawa solar lebih karena mereka takut ditangkap petugas Polair Polda Sulsel yang kerap memakai speedboat dari Bira keliling ke pulau dalam kawasan Takabonerate. Seperti kejadian pada Jumat 30 September 2022 lalu di Pantai Pulau Rajuni Lau, sebuah kapal es kemudian diperiksa oleh petugas Polair Polda Sulsel yang menggunakan speedboat warna putih, kapal pembeli ikan ini diperiksa sekaitan dengan izin dan surat-surat kapal serta muatan solar kebutuhan nelayan yang dibawanya, untungnya persoalannya telah selesaikan dan kapal  serta pedagangnya tidak jadi ditarik ke Bira saat itu,”  jelas sumber. 

Akan tetapi imbasnya adalah mereka para pedagang pembeli ikan yang menyiapkan es dan bahan bakar kebutuhan nelayan kemudian enggan lagi datang. Akibatnya nelayan saat ini kemudian kesulitan es dan bahan bakar. 

Kalau mengandalkan penjual solar pasokan dari pusat kabupaten Selayar sangat minim dan harganya juga mahal diatas sepuluh ribu perliter, jelas Sumber di Pulau Rajuni, Sabtu (8/10/2022). 

Menurut Sumber, kebutuhan nelayan di Pulau Rajuni perhari tidak kurang dari 1000 (Seribu) liter jika aktivitas nelayan melaut lancar. Tapi kalau sudah seperti ini kondisinya, bahan bakar susah dan mahal maka otomatis aktivitas mereka lumpuh, akibatnya perekonomian juga akan ikut lesu. 

Demikian juga yang dirasakan di Pulau Tarupa, Pulau Pasitallu dan Pulau Latondu. Kenaikan dan keberadaan bahan bakar kebutuhan melaut  berdampak cukup besar bagi nelayan, bahkan mereka kesulitan melaut karena harga solar tidak terjangkau.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh nelayan asal Pulau Tarupa, kepada Pewarta mengungkapkan, sejak naiknya harga bahan bakar solar, ongkos pembelian solar ikut naik, tidak berbanding dengan harga ikan yang dijualnya yang masih sangat jauh dari harapan.  

Akibatnya pembiayaan melaut tinggi sementara hasilnya sangat murah.  Sejumlah nelayan sementara menghentikan aktivitas melaut dulu, karena pekerjaannya sebagai nelayan tidak mampu menutupi kebutuhan keluarganya. 

Pantauan Pewarta di Pulau Rajuni, Pulau Tarupa, Pulau Jinato dan Pulau Pasitallu, harga bahan bakar dijual pedagang bervariasi, antara 11 ribu hingga 14 ribu perliter, sementara untuk bahan bakar pertalite dan pertamax menembus angka 20 ribu perliter. 

Para nelayan di Takabonerate berharap agar pemerintah turun membantu aktivitas nelayan dengan menyediakan bahan bakar yang bisa dibeli dengan harga standar dan ketersediaannya aman untuk dibeli. (Tim).